Connect with us

Sport Lain

Pengaruh Reaksi Atlet Dunia pada Kasus Rasisme George Floyd

polisi pembunuh George Floyd

Berita Olahraga – Meninggalnya George Floyd menimbulkan banyak reaksi keras dari publik, termasuk para atlet dunia yang bersama-sama menentang adanya rasialisme di dunia. Seperti yang diketahui sebelumnya, seorang polisi yang diketahui bernama Derek Chauvin melakukan aksi pembunuhan terhadap pria berkulit hitam pada minggu lalu. Sejak itu, aksi demonstrasi terus berlangsung di Amerika Serikat dan negara bagian lainnya.

Di Amerika, para atlet dunia ikut melakukan aksi demi untuk memprotes tindakan hukum pada polisi yang sudah membunuh Floyd yang adalah warga kulit hitam. Mereka adalah Enes Kanter, Lonzo Ball, hingga Malcolm Brogdon. Selain itu, pemain PSG yakni Kylian Mbappe dan pemain Olympique Lyon, Memphis Depay, juga ikut terlibat dalam aksi rasisme pada Floyd.

Paling baru adalah, mantan atlet american football dari Indiana Hoosiers, Chris Beaty diberitakan meninggal karena demo kematian Floyd di minggu lalu. Dari laporan media setempat, Beaty mendapat beberapa tembakan dalam demonstrasi tersebut pada Sabtu (30/5) di kawasan Talbot dan Vermont. Beaty meninggal pada umur 38 tahun. Akan tetapi, belum bisa dibuktiakn jika meninggalnya dia sehubungan dengan aksi protes secara langsung.

atlet dunia beri suara dukung George Floyd

Legenda tinju dunia dari AS, Floyd Mayweather Jr juga ikut menyuarakan anti rasisme yang mencatatkan korban jiwa tersebut. Bahkan, pencetak rekor tidak terkalahkan tersebut akan memberikan sejumlah uang untuk membiayai upacara pemakaman Floyd dengan layak dan baik.

Selain beberapa atlet dunia di atas, legenda basket NBA juga tidak ketinggalan seperti Michael Jordan dan LeBron James yang ikut mengutuk aksi rasialisme tersebut. Suara dari para psohor olahraga tersebut tentu membawa pengaruh yang positif dari semua kalangan, terutama pada fans mereka. Gerakan mereka dinilai sangat baik dan akan mendapat tanggapan di publik.

Ahli Politik Universitas Al Azhar Indonesia yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, yakni Ujang Komarudin mengatakan jika peran atlet dalam memberikan aspirasi sosial dan politik sebenarnya tidak begitu berpengaruh. Jika ada, itu hanya di luar negeri dengan nama atlet yang sudah mendunia.

floyd Mayweather

“Untuk para atlet tertentu, mungkin akan memberikan pengaruh. Seperti atlet besar yang sudah mendunia sekelas Michael Jordan, bisa memberikan pengaruh melalui para penggemarnya. Namun, atlet biasa yang prestasinya belum begitu populer di dunia, mungkin tidak akan membawa banyak pengaruh besar dalam menyuarakan aspirasinya. Tergantung kapasitas dari atlet tersebut,” ucap Ujang.

Pada peristiwa rasisme George Floyd, faktor inti baginya lebih pada status Floyd yang adalah warga kulit hitam dan meninggal di tangan Chauvin, polisi berkulit putih. Aksi rasisme memang masih begitu sulit di AS dengan sejarah perjuangan yang terjal sampai saat ini.

“Di Amerika memang itu pemicunya. Mohon maaf, dalam catatan sejarah antara kulit putih dan kulit hitam sudah ada sejak lama. Untuk kasus Floyd sendiri hal ini dikaitkan pada kulit hitam dan kulit putih. Apalagi, masalah ekomoni di Amerika yang tengah menurun karena pandemi virus corona,” ujarnya.

Pengamat olahraga nasional Indonesia, Tommy Apriantono juga mengungkapkan jika popularitas atlet sama dengan selebritas, jadi suara mereka akan mendapat perhatian. Khususnya dalam dunia sepak bola, namun pesan atlet dari selebrasi atau tulisan bisa memicu pendapat dipolitisasi. Maka, bisa saja aksi Jadon Sancho dan Marcus Thuram beberapa waktu lalu mendapat hukuman.

 

Berita Bola

Berita Menarik Lainnya

More in Sport Lain