Connect with us

Sport Lain

Pelari Perempuan Ini Mengalami Diskriminasi Dari IAAF

TERBIT.COM – Pelari asal Afrika Selatan, Caster Semenya kalah dalam kasus diskriminasi melawan Federasi Atletik Internasional (IAAF). Peraih medali emas berusia 28 tahun tersebut mengajukan banding terhadap keputusan federasi terkait membatasi tingkat hormone testosterone terhadap pelari perempuan untuk nomor lari 400 meter sampai 1 mil.

Caster Semenya yang setidaknya sudah 29 kali berturut-turut memenangkan lari kategori nomor 800 meter ini terlahir dengan ciri ciri interseks didalam dirinya dalam artian badan dari Semenya mampu menghasilkan hal yang tidak biasa yaitu tangka testosteron yang sangat tinggi. Keputusan yang telah tetapkan tersebut berarti membuat dia harus mengkonsumsi penekan testosteron apabila ingin terus berlaga di nomor tersebut. Dalam hal ini 3 orang hakim di Swiss membutuhkan waktu yang lebih dari 2 bulan untuk memutuskan hal tersebut karena dianggap berta sensitifnya dan kompleknya kasus tersebut.

Hal ini tentunya kian mencuat, namun dalam kaitannya juga tergantung sudut pandang, di mata para pendukung, Semenya sudah mengalami hukuman hanya karena ciri ciri biologisnya saja yang dia miliki sejak dilahirkan. Dia sama sekali tidak melakukan kecurangan ataupun ketahuan mengonsumsi obat untuk meningkatkan performa.

Seorang peneliti hak-hak LGBT di organisasi Human Rights Watch, Kyle Knight menyebutkan bahwa mengkonsumsi penekan hormon seperti yang telah diminta oleh AFF tersebut merupakan hal yang mempermalukan sekaligus tidak perlu secara medis apalagi bagi atlet perempuan yang memiliki tingkat hormonnya berada di luas batas penerimaan.

Terkait hal tersebut, pihak IAAF menyatakan bahwa persoalan tersebut bukan hanya untuk Semenya seorang. Namun, beredar fakta bahwa keputusan tersebut malah dibuat untuk perempuan yang berlari di nomor utama Semenya dan tidak ada untuk seluruh olahrga atletik sehingga hal ini telah membuat Semenya merasa menjadi sasaran utama dalam keputusan tersebut.

IAAF bersikeras bahwa mereka sedang menetapkan batas-batas untuk melindungi integritas olahraga terutama untuk atlet perempuan. Sebastian Ceo selaku presiden IAAF menyatakan bahwa alasanya memiliki klasifikasi gender adalah jika hal ini ditiadakan maka tidak akan ada lagi perempuan yang berhasil meraih juara, meraih medali ataipun memecahkan rekor pada kategori olahraga.

IAAF juga menyatakan bahwa perempuan yang mempunyai tingkat testosteron di atas lima nanomoles per liter darah memang memiliki keuntungan dalam performa mereka, namun mereka tergolong berbeda dari keseluruhan populasi perempuan. Dengan begitu mereka tidak mewakili perempuan secara umum dan hal inilah yang merusak konsep olahraga perempuan, maka dari itulah mengapa Semenya harus mengonsumsi obat yang akan menurunkan tingkan tertosteron ke tingkat yang disetujui.

Namun tim Semenya menjawab dengan mengatakan, “Semenya tidak ingin menjalani campur tangan medis yang mengubah dirinya dan identitasnya sebagaimana ia dilahirkan. Ia ingin berkompetisi secara alamiah.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Title

Must See

    More in Sport Lain