Connect with us

Berita Bola

Kontroversi Beitar Jerusalem, klub sepak bola yang terkenal rasis

La Familia suporter Beitar Jerusalem

Semuanya bermula dari seorang pengusaha blockchain STOX asal Israel yang bernama Moshe Hogeg. Ia dituntut oleh beberapa investornya karena telah menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk membeli klub sepak bola Beitar Jerusalem, beberapa properti dan juga melakukan donasi ke Tel Aviv University (TAU).

Lebih lanjut mengenai tuntutan hukum yang diajukan, Hogeg diketahui telah menggunakan uang perusahaan antara lain (dalam rincian):
– Membeli klub sepak bola sebesar 7 juta dollar
– Membeli properti di Kfar Shmaryahu, Tel Aviv sebesar 19 juta dollar
– Donasi ke TAU sebesar 1,9 juta dollar

Stox blockchain

Moshe Hogeg yang mendirikan perusahaan blockchain bernama STOX, telah berhasil menghimpun dana investor sebesar 34 juta dollar pada bulan Agustus 2017 lalu.

Kasus hukum ini bukanlah yang pertama kali, sebelumnya, Hogeg pernah dituntut secara hukum oleh investor STOX yang bernama Zhewen Hu asal China sebesar 4,6 juta dollar (nilai pada saat itu). Hogeg dituntut karena telah melakukan penipuan, menggunakan dana pembeli Stox crypto coin untuk keuntungan pribadi. Tuntutan hukum ini pada akhirnya tidak dilanjutkan lagi setelah terjadi mediasi diantara keduanya.

Klub Beitar Jerusalem

Klub Beitar Jerusalem

Kembali ke Beitar Jerusalem, klub sepak bola asal Israel ini bukanlah klub yang sudah berdiri lama, namun prestasinya lumayan, menempati posisi tiga besar di liga Israel, klub ini terkenal dengan pandangan rasis seperti anti Arab, anti muslim, suporternya terkenal sangat menyukai kekerasan dan rasis. Ini menjadi tantangan sendiri bagi Hogeg untuk mengubah pandangan ini, hasilnya memang menakjubkan, ia berhasil mengubahnya meskipun butuh waktu.

Kala itu, senja sudah kembali ke peraduan, kalender menunjukkan hari Rabu. Stadion Teddy yang terletak diantara jalanan yang sibuk dan sebuah pusat perbelanjaan mulai didatangi penonton bola. Stadion ini merupakan kandang bagi Beitar Jerusalem, klub sepak bola terbesar di Israel. Klub ini sering dikaitkan dengan pandangan politik sayap kanan milik Partai Likud. Sepanjang sejarah berdirinya, Beitar tidak pernah sekali pun merekrut pemain bola Israel keturunan Arab.

Suporter fanatik mulai berdatangan dari berbagai kota. Mereka umumnya merupakan golongan pekerja; malam ini mereka hadir dengan kostum khas Beitar Jerusalem yang berwarna kuning dan hitam. Kedatangan mereka untuk menyaksikan laga tuan rumah menjamu klub Hapoel Hadera.

ultras Beitar Jerusalem

ultras Beitar Jerusalem

Terlihat tulisan “La Familia” terjahit dengan rapi pada sebagian besar kostum para suporter ini. La Familia menunjukkan jika mereka adalah bagian dari ultras garis keras. Pada pertandingan di kandang sendiri, biasanya mereka akan menempati tribun berdiri di sisi timur stadion. Tidak terlihat ada yang duduk diantara mereka.

Sebelum dimulainya pertandingan, mereka akan menyanyikan lagu kebangsaan Israel dengan instrumen seadanya. Sorakan dan suara pukulan drum terdengar seolah tiada akhir. Rombongan suporter ini terkenal akan kebuasan dan kebrutalannya. Sudah menjadi rahasia umum di Israel jika mereka juga suka mengintimidasi dan rasis.

Ulah rasis ini pun dilakukan secara terbuka, kerap kali mereka meneriakkan “Death to Arabs” atau “Forever Pure” sebuah ungkapan yang menekankan pada kondisi para pemain di klub Beitar harus bebas dari keturunan Arab. Ini merupakan masalah serius dan menjadi momok menakutkan bagi pemilik klub sebelumnya, sanksi berat sudah siap menanti jika masalah rasisme ini tidak diselesaikan. Hanya Moshe Hogegyang berhasil mengatasinya, strateginya sederhana saja, mengkonfrontasi langsung ulah rasisme para suporter agar masalah bisa lekas selesai.

Moshe Hogeg

Moshe Hogeg

“Saya tidak bisa mentoleransi rasisme”, kata Moshe. Reaksi Moshe pun sangat keras, satu kali teriakan rasis dilakukan; Moshe tidak akan segan membawanya ke meja pengadilan dan menuntut jutaan dollar pelakunya.

Hogeg yang tidak dikenal siapa-siapa dalam dunia sepak bola Israel hingga ia membeli klub Beitar Jerusalem, menjelaskan jika ia ingin membawa perubahan signifikan terhadap klub seperti Beitar, jika niatnya berhasil, maka ia tidak saja membawa perubahan bagi klub ke arah yang lebih baik, tetapi juga bagi bangsa Israel. Ia terkenal sangat tegas.

Upaya Moshe Hogeg menghapus rasisme, mendapat dukungan dari sebagian besar suporter Beitar Jerusalem, namun tetap saja ada sekelompok suporter lain yang tidak setuju. Di sinilah awal dari dimulainya babak tuntutan hukum di pengadilan.

Suporter yang ketahuan masih rasis, akan dikirimkan surat yang menuduh mereka telah merusak reputasi klub. Terancam denda mahal dan proses pengadilan yang panjang, sebagian besar dari mereka akhirnya menuruti kehendak klub.

Pendekatan Moshe tampaknya berhasil. Musim lalu hanya terjadi dua kali insiden rasisme. Sekelompok suporter yang sudah pernah dijatuhi hukuman pun sudah diperbolehkan menonton kembali. Moshe percaya, strateginya perlu diterapkan oleh organisasi induk sepak bola seperti FIFA dan UEFA untuk menekan angka rasisme dari suporter klub sepak bola tertentu yang trendnya semakin naik dari tahun ke tahun.

Ali Mohamed

Ali Mohamed

Titik balik keberhasilan Moshe terjadi pada bulan November lalu ketika pemain keturunan Arab yang bernama Ali Mohammed berhasil mencetak gol ke kandang lawan. Ini merupakan gol pertamanya. Ali merupakan seorang Kristiani yang berasal dari Nigeria. Insiden kecil sempat terjadi pada sesi latihan karena nama Ali Mohammed merefleksikan nama muslim dan ada fans Beitar yang keberatan. Reaksi suporter Beitar Jerusalem ketika Ali mencetak gol sangat diluar dugaan. Momen menggembirakan ini dikenang Moshe hingga saat ini.

Meskipun banyak yang optimis dengan keberhasilan ini, pakai sosiologi Yair Galily berpendapat lain. Ia mengingatkan Moshe agar tetap waspada. Moshe memang telah membawa perubahan bagi klub, namun suporter Beitar susah diprediksi manuvernya. Hal ini seperti perdamaian yang terbantu oleh kondisi klub Beitar Jerusalem sedang naik daun.

Hogeg mengklaim, ia telah mencoba untuk merekrut pemain Israel keturunan Arab pada musim panas lalu, namun pemain tersebut menolak karena ia memperoleh penghasilan yang lebih tinggi di Eropa. Tidak menutup kemungkinan, pemain tersebut takut dengan adanya ancaman yang membahayakannya.

dua pemain muslim chechnya yang bermain di Beitar Jerusalem

dua pemain muslim chechnya yang bermain di Beitar Jerusalemj 

Masih segar dalam ingatan pada tahun 2013 lalu, kala itu dua pemain muslim asal Chechnya diboyong ke Beitar. Aksi ini gagal total karena mendapatkan penolakan dari suporter, sebagian bahkan melakukan aksi walk out setelah salah satu pemain Chechnya tersebut mencetak gol.

Meskipun ada pesimisme akan kegagalan, upaya Moshe patut diacungi jempol. Di masa lalu, anggota La Familiar pernah memutuskan untuk melawan keputusan klub petinggi Beitar. Kondisi berubah dengan cepat menjadi ancaman bagi pemilik klub. Sebagian suporter memutuskan meneror melalui telepon dan mengirim sms beruntun, ancaman lain berupa intimidasi suporter yang berkemah di depan rumah pemilik klub disertai ancaman rumahnya akan dibakar. Semua kejadian ini membuat mundurnya pemilik klub dan penyerahan ke pemilik baru.

Moshe Hogeg boleh dikatakan sosok yang sangat tabah. Hingga saat ini tidak terlihat ia akan mundur dengan keputusannya memasukkan elemen “Arab” dalam klub Beitar Jerusalem. Image klub asal Israel ini memang semakin baik, namun bakal ada tantangan baru yang sudah siap menghadang jika Moshe lengah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Title

Must See

    More in Berita Bola