Connect with us

Berita Bola

Pelarian pesepak bola Jerman Timur

Dirk dan Falko

Nama mereka Dirk Schlegel dan Falko Götz, keduanya telah saling kenal selama beberapa tahun lamanya. Hari itu mereka sepakat melakukan hal yang kelak mengubah hidup mereka.

Melewati masa kecil bersama, keduanya sudah terobsesi menjadi pesepakbola professional mewakili kota Berlin, sebuah wilayah di sisi timur Jerman yang kala itu masih terpecah menjadi dua kubu.

Kota Berlin terkenal dengan temboknya yang membagi kota tersebut menjadi dua sisi yang berseberangan. Dipengaruhi ajaran komunis, masa kanak-kanak keduanya diwarnai ajaran sisi yang baik dan buruk karena ada Jerman Barat dan Jerman Timur; ada pula kubu kapitalis yang mewakili Jerman Barat dan komunis yang mewakili Jerman Timur kala itu.

Tim Dynamo Berlin pada tahun 1983

Tim Dynamo Berlin pada tahun 1983

Baik Dirk Schlegel maupu Falko Götz bermain untuk klub yang sama, yaitu tim junior Dynamo Berlin. Klub ini tidak lepas dari pengaruh Stasi, sebuah departemen yang khusus menangani keamanan dalam negeri. Salah satu petinggi klub, Erich Mielke merupakan pemimpin Stasi.

Dirk Schlegel dan Falko Götz

Dirk Schlegel dan Falko Götz

Duo Dirk dan Falko mempunyai kesamaan, dimata pemerintahan Jerman Timur, mereka tidak bisa dipercaya. Mereka juga sering bermasalah dengan otoritas setempat.

“Kami mempunyai saudara di sisi barat Jerman, seorang tante saya tinggal di Inggris. Hal seperti ini dianggap tidak baik untuk masa depan kami di Jerman Timur. Kami sering dicurigai namun hal ini malah semakin mempererat hubungan persahabatan kami.”

Memasuki usia 17 tahun pada tahun 1979, Falko berhasil memperoleh posisi di tim senior, dua tahun kemudian Dirk menyusul masuk tim senior, umurnya sudah 20 tahun waktu itu. Sering kali keduanya diremehkan oleh pihak klub atas perintah otoritas setempat, orang tua mereka pun diberitahu, mereka tidak akan diberi penghargaan apa pun karena hal tersebut tidak baik dari sisi politis. Terlebih dengan latar belakang mereka yang dianggap berbahaya.

Bakat memang tidak bisa diakali, tampil dengan kemampuan yang mumpuni, kedua pemain bola ini cukup menonjol prestasinya. Mereka mulai diturunkan untuk memperkuat timnas Jerman Timur junior. Menjadi atlit profesional merupakan peristiwa langka yang tidak bisa dialami semua orang di negara berpaham komunis. Hanya segelintir kecil orang terpilih melalui seleksi sangat ketat yang diijinkan pergi keluar negeri untuk bertanding (tentunya dengan pengawasan ketat pemerintah).

petinggi stasi

petinggi stasi

Stasi mengawasi semua aspek kehidupan penduduk Jerman Timur di masa itu, inteligen sangat aktif mengumpulkan data-data detail melalui para informan yang diterjunkan ke masyarakat. Sistem kerja informan pun hampir menyerupai MLM, informan satu memberikan info kepada informan yang lain, demikian berita diteruskan hingga sampai ke pihak Stasi.

Diperkirakan dalam setiap 63 orang penduduk, terdapat satu penduduk yang bekerja sebagai informan, sistem seperti ini diterapkan untuk memperluas ajaran komunis ke seluruh wilayah pelosok. Bahkan sepak bola pun memainkan peranan penting dalam penyebaran paham komunis ini.

Erich Mielke mempunyai keyakinan, Dynamo akan menjadi tim sepak bola terkuat di seluruh Jerman Timur. Klub ini menjuarai liga selama sepuluh tahun berturut-turut pada tahun 1979 s.d 1988. Banyak pihak yang menuduh Dynamo sering diistimewakan jika dibandingkan tim lain.

Falko Götz mulai berpikir untuk ‘membelot’ demi karirnya ketika memperkuat tim U-21 Jerman Timur di Swedia. Sedikit demi sedikit pikirannya mulai terbuka, mau dibawa kemana karir sepakbolanya jika terus berada di Jerman Timur.

Tidak jauh berbeda, Dirk Schlegel pun mempunyai pikiran yang sama mengenai karirnya setelah bermain di Perancis pada tahun 1982.

Musim panas tahun 1983, keduanya sepakat untuk membelot. Mereka harus pergi dari Jerman Timur, harus ada rencana yang matang. Eksekusi pun harus dijalankan dengan hati-hati mengingat konsekuensi yang harus dihadapi jika sampai gagal.

Selama merencanakan pelarian ini, keduanya tidak pernah membahasnya begitu saja, sering kali mereka harus berjalan beberapa jam ke dalam area hutan untuk membahas rencana tersebut. Hanya disitu satu-satunya tempat yang dianggap aman.

“Kami membahasnya dengan serius, ini bukan perkara yang sederhana. Kami harus memikirkan tentang Stasi dan orang-orang lain di dalam klub. Ini menjadi rahasia kami berdua.”

Menjuarai liga Jerman Timur, Dynamo akan selalu lolos kualifikasi setiap tahunnya untuk mengikuti kejuaraan di Eropa. Format kejuaraan masa itu menggunakan sistem fase knock out dimana tiap tim yang bertanding bermain masing-masing sekali di kandang masing-masing. Prestasi terbaik Dynamo adalah perempat final pada tahun 1980 ketika itu mereka kalah dari Nottingham Forest.

Pertama kali merencanakan pelarian, Dirk Schlegel dan Falko Götz melihat adanya peluang ketika klub Dynamo mengikuti kompetisi pada musim 1983/84.

Pertandingan putaran pertama, Dynamo berhadapan dengan Jeunesse Esch juara liga Luxembourg. Kesempatan melarikan diri terbuka, terlebih mereka punya harapan pada seorang teman (sebut saja Mr.X) yang mungkin bisa membantu pelarian ini.

Pada leg pertama yang dipertandingkan di kandang Dynamo, Falko Götz membuat gol pembuka dan pertandingan berakhir dengan skor 4-1 untuk kemenangan Dynamo. Pertandingan leg kedua dilaksanakan pada 28 September 1983.

Seorang teman (Mr. X) yang mungkin bisa membantu mereka, baru saja mendapatkan ijin untuk pindah ke Jerman Barat. Ijin ini bisa didapatkan namun setelah melalui proses yang sangat panjang dan sulit. Teman ini tinggal dekat dengan garis perbatasan Luxembourg.

Kedua sahabat ini memikirkan kemungkinan jika mereka bisa menemui Mr. X, meminta bantuan agar keduanya bisa ikut dalam mobil. Sayang sekali momennya tidak pas, Mr. X tidak bisa membantu, ia belum menerima dokumen identitas lengkap yang dibutuhkan sehingga tidak bisa melalui perbatasan.

Menemui jalan buntu, Dirk Schlegel dan Falko Götz belum putus asa, mereka percaya masih ada jalan lain. Secara pribadi Götz menceritakan rencana ini kepada ayahnya. Sang ayah mengatakan, ada kemungkinan untuk meninggalkan Jerman Timur selamanya, dalam waktu dekat. Ia masih berusia 21 tahun waktu itu, sementara itu Schlegel tidak pernah mengatakan apa pun mengenai rencana ini, bahkan kepada ayah ibunya.

Pertandingan berikutnya yang harus dijalankan Dynamo, membawa tim ini ke Esch-sur-Alzette, tepat di perbatasan Perancis. Belgia adalah salah satu negara yang dekat dengan lokasi tersebut, jaraknya hanya sekitar 10km ke arah barat, sementara itu Jerman Barat hanya setengah jam perjalanan ke arah timur. Dirk dan Falko pun mempelajari situasi untuk menemukan peluang melarikan diri. Rencana mereka harus gagal untuk kedua kalinya, mereka tidak melihat adanya peluang untuk kabur.

“Kemana pun kami pergi, baik ke hotel, tempat makan, ke tempat latihan, ke stadion, kami selalu bersama, diawasi sepenuhnya oleh teman-teman dari Stasi. Kami diterbangkan kesana menggunakan pesawat pribadi Erich Mielke. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kami untuk melarikan diri.”

Dynamo pun menang 2-0 dalam pertandingan tersebut, para pemain pun kembali ke Berlin. Selang beberapa hari setelah mendiskusikan kemungkinan untuk tidak melihatnya lagi, ayah Falko pun menyambutnya di rumah.

Kesempatan ketiga pun kembali datang. Undian jadwal pertandingan membawa Dynamo bertemu dengan Partizan Belgrade, juara dari liga bekas negara Yugoslavia. Kali ini pengamanan tidak seketat sebelumnya.

Dynamo menang 2-0, Götz kembali mencetak gol. Menjelang tengah hari pada 2 November 1983, tim Dynamo dibawa keliling kota Belgrade (ibukota Yugoslavia) dengan bus, ketika bus berhenti, seorang anggota staff mengatakan: “Kalian diberikan waktu bebas selama satu jam. Kita akan kembali bertemu disini jam satu siang.”

Schlegel dan Götz duduk di sisi bus yang berseberangan. “Kami tidak berbicara sama sekali, hanya saling melihat satu sama lain. Inilah kesempatan untuk melarikan diri.”

Ketika teman-teman setim sibuk memikirkan mau belanja apa, kedua mulai memeras otak memikirkan peluang yang ada. Pemberhentian mereka adalah sebuah toko musik terdekat. Memasuki area toko, Götz melihat pintu keluar teersembunyi yang letaknya terpisah dengan pintu masuk ketika mereka ke toko tersebut.

“Kami berusaha berdiri sedekat mungkin, sementara pengunjung lain sibuk melihat-lihat album rekaman bekas untuk keluarga mereka.”

“Momen istimewanya adalah ketika kami melihat pintu keluar tersembunyi tersebut. Ada peluang pergi dari sana tanpa terlihat orang.”

“Kami memastikan dulu tidak ada yang memperhatikan, yang ada dalam pikiran adalah berlari secepat mungkin memisahkan diri dari rombongan.”

Berlari selama lima menit hingga menemukan sebuah taksi, mereka pun masuk ke dalam namun sempat panik karena supir taksi menolak untuk mengantar ke kedutaan Jerman Barat. Terpaksa mereka harus mencari taksi kedua sembari langsung memberinya sepuluh Deutschmarks. Taksi kedua ini pun hanya jalan sejauh satu kilometer sebelum melanjutkan dengan jalan kaki. Tiba di kedutaan Jerman Barat, mereka pun meminta bantuan untuk langkah selanjutnya.

Kedua sobat karib ini akan diantar ke kota Zagreb yang jaraknya empat jam perjalanan dari Belgrad. Staff kedutaan berpikir, mereka harus secepatnya pergi dari gedung kedutaan meninggalkan kota tersebut demi alasan keamanan. Otoritas setempat akan datang ke kedutaan jika saja pelarian mereka diketahui.

Tiba di Zagreb, rencana pelarian dimatangkan kembali. Di kota ini terdapat gedung konsulat Jerman Barat, Götz dan Schlegel diberikan dokumen aspal sebagai warga Jerman Barat untuk membantu mereka meninggalkan Yugoslavia.

Staff kedutaan membekali mereka dengan makanan, rencana dilanjutkan dengan menggunakan kereta api malam dari Ljubjana. Mereka harus tiba sedekat mungkin dengan jam keberangkatan kereta api. Ketika itu jam enam sore, sudah enam jam sejak pelarian mereka dimulai.

Kereta pun berangkat, mereka hanya tinggal berjarak 30km sebelum tiba di perbatasan Yugoslavia. Kereta pun akhirnya tiba, samar-samar terdengar ketukan di pintu kompartemen mereka. Mereka bisa mendengar suara sepatu dan anjing penjaga yang mendekat.

Keduanya merasa sangat cemas, namun polisi yang memeriksa dokumen mengatakan OK dan pergi. Semuanya tidak lebih 20 detik.

Jam enam pagi, mereka tiba di Munich setelah sempat tidur beberapa jam di dalam kereta api. Nama keduanya sudah tertera di koran lokal, “Pemain Jerman Timur melarikan diri ke barat”

Staff diplomatik Jerman Timur yang mengatur dokumen perjalanan untuk keduanya, telah memberikan instruksi langkah selanjutnya. Mereka harus pergi ke kota Giessen dimana terdapat fasilitas untuk pengungsi.

Siang harinya, Götz dan Schlegel tiba di kota tersebut. Jam 7 malam mereka pun menelepon ke rumah masing-masing. Götz yang menelepon orang tuanya langsung diperingati jika ada pihak Stasi yang mendengar pembicaraan mereka.

Berada dalam situasi yang berbahaya, keduanya sepakat untuk tidak membahas politik dalam semua interview yang mereka lakukan. Hal ini dianggap bisa membahayakan keluarga mereka di Jerman Timur.

“Kami tahu Stasi juga mempunyai banyak mata-mata di Jerman Barat, jadi situasinya sangat membahayakan.”

Jorg Berger

Jorg Berger

Tidak menunggu lama, mereka menghubungi Jorg Berger, bekas pelatih Jerman Timur yang membelot ke barat pada tahun 1979.

Berger membantu mereka untuk mencari klub sepak bola, pilihan jatuh kepada Bayer Leverkusen. Meski demikian, mereka harus menunggu setahun sebelum kesempatan bergabung ini ada. Mereka pun tidak ingin klub lama Dynamo mengetahui hal ini.

Berger meninggal pada tahun 2010 di usia 65 tahun setelah menderita kanker. Dalam biografinya, ia menulis jika dirinya sendiri pernah menjadi target pembunuhan dimana ia diracun oleh seorang agen Stasi.

Götz dan Schlegel akhirnya berhasil bermain di Bundesliga. Mereka berlatih bersama Leverkusen, bermain bola di lingkungan yang baru namun Stasi tetap mengawasi kehidupan mereka. Itu sebabnya Stasi sangat populer.

Götz tetap bermain di Leverkusen hingga tahun 1988. Setelah memenangkan Piala Uefa, dia bergabung ke klub Cologne.

Schlegel meninggalkan Leverkusen pada 1985, bermain selama semusim bersama Stuttgart sebelum bergabung dengan Blau-Weiss Berlin pada 1986. Ia hanya bisa bertemu kedua orang tuanya pada 1987 di Cekoslowakia.

Tembok Berlin dirobohkan

Tembok Berlin dirobohkan

Desember 1989, tembok Berlin diruntuhkan, Dirk Schlegel dan Falko Götz akhirnya bisa kembali ke Berlin, mengunjungi keluarga masing-masing. Tiga puluh tahun kemudian, keduanya masih teman dekat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Title

Must See

    More in Berita Bola