Connect with us

Berita Bola

Kini Jadi Pahlawan Spurs, Moura Awalnya hidup di Kampung Kriminal

Lucas Moura menjadi pahlawan yang memboyong Tottenham Hotspurs untuk masuk menjajaki partai final Liga Champions musim 2018-2019. Tottenham Hotspurs berhasil merebut satu tiket ke laga final Liga Champions musim ini setelah menundukan Ajax Amsterdam dengan perolehan skor akhir 3-2 pada pertandingan leg kedua semifinal, Rabu 8 Mei 2019.

Skor yang terlahir membuat kedudukan menjadi seimbang 3-3, tetapi Tottenham Hotspurs yang berhak untuk masuk ke pertandingan pamungkas pasalnya mereka berhasil unggul agresivitas gol tandang. Walhasil Tottenham Hotspurs mencatat rekor untuk kali pertama sepanjang sejarah klub yang mampu masuk ke final Liga Champions.

Spurs juga menjadi tim kedelapan yang berasal dari Inggris yang mampu masuk ke partai paripurna Piala/Liga Champions  setelah Arsenal, Aston Villa, Chelsea, Leeds United, Liverpool, Manchester United, dan Nottingham Forest. Selain daripada itu, merepa pula yang menjadi klub ke-19 dari keseluruhan tim di Eropa yang berhasil mengunci partai puncak sejark era Liga Champions terlaksana.

Apabila ditanya siapakah yang pantas untuk menyandang gelar pahlawan atas kesuksesan ini, ya tentunya tak salah lagi Lucas Moura. Sebagai contributor yang mampu menyumbangkan tiga gol untuk Tottenham tepat di menit ke-55 59,’ dan 90+6 dalam pertandingan kali ini menjadi bukti.

Mengingat musim ini adalah musim perdana Moura bermain semusim penuh. Ia baru saja ditarik Spurs dari Paris Saint-Germaint (PSG) pada bulan Januari 2018. Bukti-bukti tersebut adalah sebagain capaian yang membuat pemain berusia 26 tahun ini menjadi bintang dalam pertempuran semalam.

Meskipun begitu, kita perlu mengetahui seperti apa latar belakang sang pemain. Begini profil Moura.

Pemain ini mempunyai nama lengkap Lucas Rodrigues Moura da Silva, yang terlahir di Kota Sao Paulo, bagian tenggara Brasil pada 13 Agustus 1992. Kota dnegan jumlah kepadatan tertinggi di negara Brasil dengan total kependudukan  21.391.624 juta per 2017 menurut Institut Geografi dan Statistik Brasil, IBGE.

Bahkan Badan Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi, OECD menyematkan nama Sao Paulo  sebagai kota terpadat ke-12 di dunia. Hanya saja di kota yang bisa terbilang besar tersebut, Moura tidak menikmati masa kecilnya dengan rasa aman. Tepat di akhir tahun 90an dan 2000an, ia ia merasakan tempat yang tengah ditempatinya itu dipenuhid engan kriminalitas yang membahayakan, dan menjadikan dirinya lebih waspada.

“Waktu itu sangat sulit, saat saya masih kecil ada banyak masalah seperti kekerasan, sekawanan berandal, senjata api, dan narkotika. Sebuah kehidupan kriminal,” ujar Lucas Moura pada Oktober 2018

“Saya punya teman yang memilih kehidupan kriminal. Beberapa mendekam jeruji penjara, ada pula yang telah mati. Mereka dekat dengan jalan yang buruk,” ungkap ayah satu orang anak ini.

Keadaan ini tentu mengganggu Moura yang sedang melewati masa-masa belajarnya dalam bidang pesepak bolaan di Club Atletico Juventus antara  1999-2002 dan Corinthians pada 2002-2005. Tetapi dengan tekad yang bulat ia tidak terrayu masuk dan terjebak dalam dunia kriminalitas. Saya sering bermain sepak bola di jalanan. Mimpi saya adalah menjadi pesepak bola, itulah mengapa saya tak pergi ke kehidupan jalanan yang buruk,” ucap Moura.

“Saya selalu percaya saya bisa mewujudkan impian saya dan memberikan kehidupan lain untuk keluarga saya. Orang tua saya menunjukkan jalan yang baik.”

“Pendidikan yang saya miliki dari mereka, dan impian saya untuk menjadi pemain sepakbola tidak pernah membiarkan saya keluar dari jalan.”

“Tidak mungkin membayangkan melakukan hal lain karena saya selalu berpikir bahwa saya akan menjadi pemain bola,” tutur pilar timnas Brasil tersebut.

tahun 2005 saat dirinya berusia 13 tahun, ia pindah ke klub kebanggaan kota kelahiran Sao Paulo. Di sana ia menghabiskan lima tahun berkontribusi di tim junior sampai mendapat kesempatan promosi ke tim utama pada 2010. Mulai saat itu permainan Moura lebih meningkat. Bahkan, pada musim keduanya di tim utama Sao Paulo, ia mampu mencatatkan sembilan gol empat assist dan 28 partai di Liga Brasil.

Manchester United dan Inter Milan memburu Moura. mereka ingin mendapuk Moura pada musim panas 2012. saat itu usianya masih 19 tahun.Namun, Paris Saint-Germain (PSG) yang kala itu diasuh Carlo Ancelotti, adalah tim yang memenangi berburuan sang pemain. Moura pun mengangkut koper ke Parc des Princes pada Januari 2013 dengan 45 juta euro sebagai ongkosnya.

Enam tahun berlalu di PSG, Moura berhasil menyumbangkan 16 trofi domestik, termasuk empat gelar juara Liga Prancis secara berturut-turut mulai musim 2012-2013 hingga 2015-2016. Hanya, kurangnya berlaga dilapangan sejak kedatangan pelatih Unai Emery pada medio 2016, membuat Moura berpikir dua kali untuk bertahan. apalagi pada musim kedua sang pelatih berkuasa.

“Momen saat itu teramat sulit, tujuh bulan terburuk sepanjang hidup saya,” kata Moura pada November 2018

“Saya baru saja tiba dari musim yang sangat mengesankan. Saya adalah top skor kedua tim di bawah Edinson Cavani.

“Pada musim kedua saya tak pernah dipanggil. Meski terus berlatih, saya tak pernah ada di pertandingan. Itu sangat sulit,” tutur pemain berposur 172 sentimeter ini.

Bak gayung bersambut, ambisinya untuk pindah seragam diendus pelatih Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino.Ia resmi keluar dan berganti seragam ke Spurs per Januari 2018 dengan biaya 25 juta euro. Mengikuti jejak Serge Aurier yang telah bergabung dengan skuat besutan Pochettino enam bulan sebelumnya.

Sejauh dibawah naungan Tottenham, Moura sudah mengemas 84 penampilan di semua kompetisi berikut 74 gol. Satu catatan apiknya meski belum lama di Spurs adalah hat-trick pada laga pekan ke-34 Liga Inggris, (13/4/2019) melawan Huddersfield Town. Moura mengabadikan namanya sebagai pencetak trigol pertama di markas anyar Spurs, Tottenham Hotspur Stadium.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Title

Must See

    More in Berita Bola